Selasa, 19 April 2011

FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGANNYA

FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGANNYA
[Editor : M Thoyibi]
Gudang kami sengaja untuk memilih karya yang dieditori oleh, M Thoyibi karena disamping kaya akan catatan yang mudah dicerna, buku ini merupakan kumpulan tulisan pakar filsafat ilmu. Namun kurang bijak rasanya kalau dikupas secara tuntas, karena akan melanggar karya cipta intelektual, juga akan mencundangi penerbit. Oleh karenanya akan dibahas terbatas, dengan gaya mencuplik sana-sani. Secara keseluruhan buku ini merupakan kumpulan tulisan dari sembilan orang penulis, masing-masing:
1. Hakikat Dasar Keilmuan [ Jujun. S. Suriasumantri]
2. Filsafat Ilmu, Sejarah Kelahiran, Serta Perkembangannya [Koento Wibisono Siswomihardjo]
3. Teori Pengetahuan dan Perannya dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan [Charles M. Stanton]
4. Filsafat Yunani Batu Pertama untuk Kultur Modern [Muchlis Hamidy]
5. Ilmu Pengetahuan, kelahiran dan Perkembangannya, Klasifikasi, Sserta Strategi Pengembangannya [Koento Wibisono Siswomihardjo]
6. Metode Mencari Ilmu Pengetahuan : Rasionalisme dan Empirisme [H.B.Sutopo]
7. Pragmatisme dan Realisme Modern [D.Edi Subroto]
8. Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Konteks Masa Kini dan Masa Mendatang
9. Pengembangan Metode Keilmuan di Perguruan Tinggi dalam kecenderungan IPTEK Dewasa ini [S. Farid Ruskanda]
Selanjutnya dicuplik beberapa tulisan, antara lain tulisan : Jujun. S. Suriasumantri, Koento Wibisono Siswomihardjo dan H.B.Sutopo.
Cuplikan-cuplikan
[Jujun. S. Suriasumantri]
Apakah Ilmu?
Ilmu merupakan suatu pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi merupakan misteri. Penjelasan ini akan memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi. Dengan demikian, penjelasan ini memungkinkan kita untuk mengontrol gejala tersebut. Untuk itu, ilmu membatasi ruang jelajah kegiatan pada daerah pengalaman manusia. Artinya, obyek penjelajahan keilmuan meliputi segenap gejala yang dapat ditangkap oleh pengalaman manusia lewat pancaideranya.
Secara epistemology, ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam, yakni pikiran dan indera. Epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara pikiran secara rasional dan berpikir secara empiris. Kedua cara berpikir tersebut digabungkan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran.

Apakah Kebenaran?
Ilmu, dalam menemukan kebenaran, mensandarkan dirinya kepada beberapa criteria kebenaran, yakni:
• Koherensi
• Korespondensi
• Pragmatisme.
Apa Koherensi?
Koherensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteria konsistensi suatu argumentasi
Apa Korespondensi?
Korespondensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteria tentang kesesuaian antara materi yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan obyek yang dikenai pernyataan tersebut.
Apa Pragmatisme?
Pragmatisme merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kreteria tentang fungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang, dan waktu tertentu.
Apa Metode Ilmiah?
Metode ilmiah merupakan langkah-langkah dalam memproses pengetahuan ilmiah dengan menggabungkan cara berpikir rasional dan empiris dengan jalan membangun jembatan penghubung yang berupa pengajuan hipotesis.
Apa Hipotesis ?
Hipotesis merupakan kesimpulan yang ditarik secara rasional dalam sebuah kerangka berpikir yang bersifat koheren dengan pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebelumnya.
Apa langkah-langkah Metode Ilmiah?
Langkah metode ilmiah adalah langkah yang berporoskan “troika”
• Penyusunan kerangka berpikir berdasarkan logika deduktif
• Pengajuan hipotesis sebagai kesimpulan dari kerangka berpikir tersebut
• Pengujian [verifikasi] hipotesis.
Berdasarkan troika ini maka metode ilmiah dikenal sebagai proses:
“Logiko-Hipotetiko-Verifikatif atau Dedukto-hipotetiko-verifikatif”

Bagaimana Proses Kegiatan Ilmiah?
Proses kegiatan ilmiah pada hakikatnya adalah kegiatan berpikir yang bersifat analitis. Logika merupakan alur jalan pikiran yang dilalui dalam kegiatan analisis agar kegiatan berpikir tersebut membuahkan kesimpulan yang sahih. Kegiatan ilmiah pada pokoknya mempergunakan dua jenis logika yakni :
• Logika deduktif
• Logika Induktif
Apa Logika Deduktif?
Logika deduktif adalah cara penarikan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat umum kepada pernyataan yang bersifat khas.
Apa Logika Induktif?
Merupakan cara penalaraan kesimpulan dari penyataan yang bersifat individual [khas] kepada pernyataan yang bersifat umum.

H.B.Sutopo:
Apa Rasionalisme ?
Faham rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal [ratio]. Kebenaran dan kesesatan pada dasarnya terletak di dalam gagasan manusia, bukan di dalam diri barang sesuatu. Kebenaran hanya ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja. Pengalaman tidak dingkari, tetapi ia hanya sebagai perangsang pikiran. Seorang-orang bernama Descartes merupakan bapak rasionalisme yang berusaha menemukan kebenaran [pengetahuan] dengan menggunakan metode berpikir deduktif.
Seorang pengikut rasionalisme menggunakan pikir untuk memperoleh kebenaran-kebenaran yang harus dikenalnya, bahkan sebelum adanya pengalaman.
Apakah Empirisme?
Paham ini mementingkan pengalaman indera. Pengetahuan diperoleh lewat pengalaman indera. Seluruh pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan dan membandingkan gagasan-gagasan yang diperoleh dari penginderaan serta refleksinya. Akal manusia hanya merupakan tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil pengeinderan kita.
Jhon Locke adalah seorang-orang tokoh empirisme dengan teorinya yang kerap disebut dengan “tabula-rasa”.
Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkret dan diungkap lewat penginderaan gejala bila ditelaah lanjut akan menghasilkan pola yang teratur mengenai kejadian tertentu. Dengan mengumpulkan pengalaman, kita akan bisa melihat kesamaan dan perbedaan gejala yang ada, yang selanjutnya menjadi pengetahuan.
Bagaimana kata akhir pertentangan antara Rasionalisme dengan Empirisme?
Perang pikir antara Empirisme dan Rasionalisme, ternyata dipadamkan oleh faham “fenomenalisme” ajaran Immanuel Kant [1724-18-04]. Oleh karenanya ia dianggap mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur “apriori” dalam pengenalan, terlepas dari segala pengalaman. Empirisme menekankan unsur-unsur “Aposteriori”, yang berarti unsur yang berasal dari pengalaman.
Menurut Kant keduanya berat sebelah. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa pengetahuan manusia merupakan paduan atau sintesis antara unsur-unsur apriori dan unsur aposteriori. Dari sintesis tersebut dapat dirumuskan beragam yang lengkap baik secara empiris maupun dilandasi penalaran yang logis dan dapat lebih jelas dirumuskan kaitan [sebab-akibat] dari suatu gejala yang terjadi di alam ini.

Koento Wibisono Siswomihardjo
Merujuk buah pikir Van Peursen:
Menghadapi perkembangan pemikiran umat manusia dewasa ini, ternyata dapat diskemakan dengan tiga tahapan pemikiran yakni :
• Mistis
• Ontologis
• Fungsional
Apa tahapan pemikiran Mistis?
Dalam tahapan ini kebenaran atau kenyataan adalah sesuatu yang “given”, mistis, dan tidak perlu ditanyakan
Apa tahapan pemikiran Ontologis?
Pada tahapan ini manusia dan masyarakat mendambakan kebenaran substansial
Apa tahapan pemikiran Fungsional?
Pada tahapan ini kebenaran dan kenyataan diletakkan pada fungsi atau relasi kemanfaatannya.
Aktualisasi ketika dinamika perkembangan manusia, dalam bidang keilmuan:
Orang mulai mempertanyakan”apa hakikat ilmu pengetahuan” itu, yang jawabnya tidak semudah sebagaimana diperkirakan. Implikasi dari perkembangan manusia membuahkan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, cabang ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain. Garis demarkasi antara ilmu-ilmu murni dan ilmu-ilmu terapan menjadi kabur;
Kedua, dengan semakin kaburnya garis demarkasi itu, timbullah persoalan mengenai sejauh mana nilai-nilai etik dan moral dapat intervensi dalam kegiatan ilmiah.
Ketiga dengan kehadiran teknologi yang mendominasi kehidupan manusia di segala bidang, timbul pertanyaan filsafati apakah dengan dominasi ilmu pengetahuan itu kehidupan menjadi maju atau justru sebaliknya. Itulah sebabnya filsafat menjadi actual, khususnya filsafat ilmu yang kita butuhkan dari interdependensi antar cabang ilmu yang satu dengan cabang ilmu yang lain, juga dengan filsafat sendiri.
Apa Filsafat ilmu?
Filsafat ilmu [Philosophy Of Science, Wissenchaftlehere, Wetenschapleer] merupakan penerusan dalam pengembangan filsafat pengetahuan, sebab pengetahuan ilmiah tidak lain adalah ‘a higher level dalam perangkat pengetahuan manusia dalam arti umum sebagaimana kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, obyek kedua cabang filsafat ini disana sini berhimpitan, namun berbeda salam aspek pembahasannya.
Strategi Pengembangan Ilmu.
Berbicara tentang strategi pengembangan ilmu, dewasa ini terdapat tiga macam pendapat:
Pertama, ilmu berkembang dalam otonomi tertutup, dalam hal ini pengaruh konteks dibatasi, bahkan disingkirkan.
Kedua, ilmu harus lebur dalam konteksnya, tidak hanya merupakan refleksi, melainkan juga memberikan alasan pembenaran konteksnya.
Ketiga, ilmu dan konteksnya saling meresapi dan saling mempengaruhi untuk memberi kemungkinan bagi timbulnya gagasan-gagasan baru yang actual dan relevan bagi pemenuhan kebutuhan sesuai dengan waktu dan keadaan.
Wusana kata.
Filsafat ilmu bukanlah sekedar metodologi ataupun tata cara penulisan karya ilmiah. Filsafat ilmu merupakan refleksi secara filsafati akan hakikat ilmu yang tidak akan mengenal titik henti dalam menuju sasaran yang akan dicapai., yaitu kebenaran dan kenyataan.
Memahmi filsafat ilmu berarti memahami seluk beluk ilmu pengetahuan sehingga segi-segi dan sendi-sendinya yang paling mendasar, untuk dipahami pula perspektif ilmu, kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar [cabang] ilmu yang satu dengan yang lain.
Filsafat ilmu perlu disebarluaskan untuk dikuasai oleh para tenaga pengajar dan peneliti, agar memungkinkan mereka untuk mensublimasikan disiplin ilmu yang ditekuninya ke dataran filsafati sehinga sanggup memikirkan spekulasi-spekulasi yang terdalam untuk menciptakan paradigma-paradigma baru yang relevan dengan budaya masyarakat bangsanya sendiri.


Berpikir ilmiah dengan bahasa efisien
Pengarang: jujun s. suriasumantri jakarta: sinar harapan, 1984 resensi oleh: m.t zen. (bk)
FILSAFAT ILMU: SEBUAH PENGANTAR POPULER Oleh: Jujun S. Suriasumantri Penerbit: Sinar Harapan, Jakarta, 1984, 382 halaman

BUKU ini merupakan sumbangan berarti bagi dunia perbukuan Indonesia yang masih gersang. Sebab, merupakan buku filsafat ilmu, pertama di Indonesia, yang ditulis secara populer sangat komprehensif, karena selain membahas masalah filsafat ilmu (an sich), juga membahas masalah bahasa, sangkut paut ilmu dengan kebudayaan, dan masalah penulisan ilmiah.

Jujun Suriasumantri memulai bukunya dengan menjelaskan dasar-dasar pengetahuan. Sesudah itu, ia meningkat pada ontologi, epistemologi. Dan kemudlan berpindah ke sarana berpikir ilmiah: aksiologi ilmu dan kebudayaan, ilmu dan bahasa, penelitian dan penulisan ilmiah. Suatu horison yang amat luas sebenarnya untuk dicakup dalam satu buku. Kendati demikian, Jujun berhasil menyampaikan pesannya secara efektif terutama melalui gambar-gambar dan syair-syair yang sangat relevan.

Tapi kekuatan buku ini sebenarnya terletak pada bagian-bagian sesudah Bab IV yang mulai membahas sarana berpikir ilmiah. Banyak buku filsafat ilmu diterbitkan. Tetapi, umumnya, kurang penekanan pada aspek sarana berpikir ilmiah, terutama mengenai hubungan bahasa dengan ilmu. Jujun memerlukan satu bab tersendiri untuk membahas masalah itu - suatu hal yang sangat terpuji karena orang Indonesia banyak yang tidak menginsafi betapa erat hubungan bahasa dan penguasaan bahasa dengan berpikir secara ilmiah (scientific thinkng).

Misalnya bahasa Jerman, beserta strukturnya, sangat baik untuk mengutarakan analisa yang berat: pikiran metafisika, epistemologi dan ilmiah. Sebaliknya bahasa Prancis. Bahasa ini sangat baik untuk mengutarakan ide. Karena itu, para ahli bahasa Indonesia, beserta para ilmuwannya, mempunyai kewajiban moral menyempurnakan bahasa Indonesia, agar dapat berfungsi sebagai bahasa ilmiah bukan saja dalam menciptakan istilah-istilah baru, tapi juga menyempurnakan struktur dan kaidah-kaidahnya. Ini, antara lain, terlihat pada penggunaan kata ulang seperti bahan-bahan dan kapal perang-kapal perang. Bentuk jamak demikian sangat tidak efisien dalam penulisan ilmiah.

Dalam bab "Nuklir dan Pilihan Moral", Jujun mengemukakan masalah penggunaan senjata nuklir pada Perang Dunia II. Pemilihan subyek ini sangat relevan. Juga diterbitkannya kopi surat Ilmuwan Albert Einstein kepada presiden AS Franklin Roosevelt sangat tepat.

Kelemahan buku ini? Jika dicari-cari, tidak ada gading yang tak retak. Sebaliknya, kelebihannya jauh lebih banyak dari kekurangannya. Jujun, misalnya, tidak menyebutkan segi-segl yang tak dapat dijangkau oleh ilmu itu sendiri. Ilmu, sekalipun berdasarkan observasi, tetap bersandar pada semacam kepercayaan bahwa ada keteraturan dalam alam yang tidak dapat diamati dan diterangkan secara rasional.

Science (ilmu dalam istilah Jujun) hanya dapat mengatakan tentang "what is and what is not". Sedangkan agama (tepatnya teologi) juga hanya dapat mengatakan tentang "what should and what should not". Di sinilah letak komplementaritas antara ilmu dan agama. Karena itu Einstein mengatakan, "Science without religion is blind, and religion without science is lame." Hal inilah yang benar-benar harus dimengerti khalayak ramai.

Di samping itu, masih terlalu banyak orang menganggap ilmu sebagai magicbox, yang segala bisa. Padahal, tidak demikian. Pengertian ini, menurut saya, harus disampaikan kepada khalayak ramai secara populer. Hal ini sangat relevan dengan dilema pilihan menggunakan bom nuklir atau tidak menjelang akhir Perang Dunia II lalu.

Kelemahan lain, buku ini hanya dilengkapi indeks sebanyak dua halaman - yang menurut saya sangat kurang.

M.T. Zen

Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer
oleh : PapapFarras
Pengarang : Jujun S. Suriasumantri

LANDASAN PENELAAHAN ILMU

A. Hubungan Ilmu dengan Nilai-nilai Hidup
Penerapan
ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan lebih lanjut ilmu dan teknologi. Tanggung jawab etis merupakan sesuatu yang menyangkut kegiatan keilmuan maupun penggunaan ilmu, yang berarti dalam pengembangannya harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bersifat universal, bertanggungjawab pada kepentingan umum, dan kepentingan generasi mendatang.
Tanggung jawab ilmu menyangkut juga hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu dimasa lalu, sekarang maupun akibatnya di masa mendatang, berdasarkan keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Penemuan baru dalam ilmu terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan nilai-nilai hidup baik alam maupun manusia. Hal ini tentu menuntut tanggung jawab untuk selalu menjaga agar yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang terbaik bagi perkembangan ilmu itu sendiri maupun bagi perkembangan eksistensi manusia secara utuh.
Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut upaya penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia, melainkan harus menyadari apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia seharusnya, baik dalam hubungannya sebagai pribadi, dalam hubungan dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap Khaliknya.
Jadi perkembangan ilmu akan mempengaruhi nili-nilai kehidupan manusia tergantung dari manusianya itu sendiri, karena ilmu dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dalam kebudayaannya. Kemajuan di bidang ilmu memerlukan kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, karena tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat bersungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya.

B. Mengapa Ilmu Tidak Dapat Terpisahkan dengan Nilai-nilai Hidup
Ilmu dapat berkembang dengan pesat menunjukkan adanya proses yang tidak terpisahkan dalam perkembangannya dengan nilai-nilai hidup. Walaupun ada anggapan bahwa ilmu harus bebas nilai, yaitu dalam setiap kegiatan ilmiah selalu didasarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Anggapan itu menyatakan bahwa ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri, yaitu ilmu harus bebas dari pengandaian, pengaruh campur tangan politis, ideologi, agama dan budaya, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin, dan pertimbangan etis menghambat kemajuan ilmu.
Pada kenyataannya, ilmu bebas nilai dan harus menjadi nilai yang relevan, dan dalam aktifitasnya terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai hidup harus diimplikasikan oleh bagian-bagian praktis ilmu jika praktiknya mengandung tujuan yang rasional. Dapat dipahami bahwa mengingat di satu pihak objektifitas merupakan ciri mutlak ilmu, sedang dilain pihak subjek yang mengembangkan ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya.
Setiap kegiatan teoritis ilmu yang melibatkan pola subjek-subjek selalu mengandung kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga bidang, yaitu pekerjaan yang merupakan kepentingan ilmu pengetahuan alam, bahasa yang merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika, dan otoritas yang merupakan kepentingan ilmu sosial.
Dengan bahasan diatas menjawab pertanyaan mengapa ilmu tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai hidup. Ditegaskan pula bahwa dalam mempelajari ilmu seperti halnya filsafat, ada tiga pendekatan yang berkaitan dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup manusia, yaitu:
1. Pendekatan Ontologis
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.
Dalam kaitannya dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup, maka dalam menetapkan objek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia, dan mencampuri permasalahan kehidupan.
2. Pendekatan Epistemologi
Epistemologis adalah cabang filsafat yang membahas tentang asal mula, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkikan dipelajarinya pengetahuan yang berupa ilmu.
Dalam kaitannya dengan moral atau nilai-nilai hidup manusia, dalam proses kegiatan keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan.
3. Pendekatan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam. Untuk itu ilmu yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai konotasi ras, ideologi, atau agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar